Semakin tua, rasanya keinginan diri untuk menjadi lebih intelek itu semakin menggebu. Saya putuskan untuk membeli buku-buku lagi dengan testimoni yang memberikan kontribusi pada pemikiran orang-orang besar.
Dua hari saya membaca buku filsafat, saya pusing betul. Dalam hati sedikit kecewa, "apakah saya belum siap membaca buku intelek seperti ini?". Buku-buku self-improvement dan sebagainya juga belum meningkatkan minat baca saya. Dibaca, tetapi tidak bergairah. Seringkali buku-buku itu habis dalam hitungan bulan bahkan tahun, jarang sekali dapat diselesaikan dalam hitungan hari.
Tetapi fiksi itu rasanya beda.
Kecintaan pada suatu buku, tidak bisa dipaksakan.
Kemarin saya pergi ke toko buku lagi, menimbang-nimbang keputusan untuk membeli buku non-fiksi. Dan percakapannya dalam diri saya kira-kira begini,
"Habis baca buku ini, saya tercerahkan tidak ya?"
"Kegunaan buku ini apa ya?"
Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan pragmatis seperti yang diajukan seorang awam setelah diberitahu kegunaan obat-obat tradisional yang terbukti khasiatnya.
Tetapi akhirnya pilihan saya jatuh pada novel Nadira oleh Leila S. Chudori.
Buku ini mengisyaratkan rindu akan lembar-lembar berikutnya.
Dari halaman awal, banyak tertulis pujian-pujian tokoh ternama atas karya Leila S. Chudori yang satu ini. Buku ini menyimpan cerita dan drama yang kelam, tetapi masih mungkin terjadi pada kehidupan manusia. Sisipan cerita menyenangkan di dalamnya seperti memberikan kompensasi atas drama-drama tersebut, sehingga buku ini seperti menyihir pembacanya untuk mengetahui kelanjutan ceritanya. Alur campuran pada buku ini-pun setia membuat pembacanya berpikir dan mengingat-ingat sekelibat petunjuk pada potongan cerita sebelumnya.
Metaforanya indah dan akurat. Sehingga belakangan saya jadi suka menggunakan istilah yang diciptakan Nadira pada orang-orang di sekitarnya yang gemar bergunjing, burung nazar. Dan beberapa lainnya yang berbunyi seperti ini,
Suaranya meniup-niup luka hatinya yang tengah menganga (hal, 119)
Sekumpulan bintang yang selama ini setia menggelantung di langit Bali kini menugaskan diri untuk mengunjungi mereka yang terluka. (hal, 286)
Selain itu buku ini sarat akan petuah-petuah yang berguna bagi hidup seorang manusia,
"Meski kau tak setuju dengan kebijakan politik pejabat yang kau wawancarai, kau harus tetap bersikap netral. Sebaliknya kalau mewawancarai Cory Aquino, mentang-mentang perempuan, jangan lantas jatuh simpati tak karuan. Dingin. Kau harus tetap dingin" (hal, 79)
"Berapa puluh ribu Amalia yang memutuskan sekolahnya bukan karena tak mampu, tapi karena lebih memilih berumah tangga? Mungkin itu sebabnya feminisme di negara kita bergerak bak siput" (hal, 255)
"...sebuah teknik menghadapi orang-orang yang gemar merepet. Orang orang yang tidak peduli dengan konsep dialog. Orang-orang yang gemar monolog dan kagum pada suaranya sendiri....Rick Vaughn menyadarkan Nadira untuk berkelana ke tempat dia merasa tenteram dan bahagia." (hal, 289-290)
***
